Kisah Cinta Pinggiran Desa

PITUTUR BECIK

Kriiing… Kriiiiiinggg… hanya sempat dua kali berdering di pagi buta, telfon itu segera diangkat.
“Hey.., Ryan… jangan keras-keras donk.!” Kata si pengangkat telefon itu sembari celingukan kiri-kanan. Sepertinya pengangkat telefon tadi menyalahkan si penelfon yang menyebabkan pesawat telfon itu bersuara keras. Padahal dering kuat itu karena setelan volume dering yang dimaksimalkan. Lalu sambil cekikikan pelan ia menyambung “Ntar kedengeran sama si beruang besar, mampus gue…” dan setelah beberapa menit berhaha-hihi dan bla-bla-bla sana-sini, akhirnya keluar juga kata penutup percakapan pagi itu “oke dehh… sampai jumpa nanti yaaa.., bye…”

“Ada apa Bik..?” tiba-tiba seorang gadis remaja berbusana tidur mendekat dari arah belakang. Hmm.., mungkin inilah si beruang besar itu, ah tidak, bisa jadi ini beruang kecilnya. “eh… enggak Non, anu… salah sambung” jawab yang ditanya sambil menunduk malu tapi mulutnya klecam-klecem. Beruang mengantuk itu percaya saja, sepertinya ia hanya menaruh celana dalam kotor di keranjang cucian, membuang bekas pembalut lalu…

View original post 1,101 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: